Surat Sakti untuk Kudeta

Masa lalu tak akan terlulang persis. Menjadi cermin bagi yang punya mata. Menjadi cerita bagi yang punya telinga.

Sudut pandang akan mengikuti kepala. Dan isi keinginan. Maksud dan tujuan, ia menatap tajam. Kadang mencari kelemahan, kesalahan. Atau keuntungan.

Manuskrip jadi bukti, entah ada atau musnah. Mungkinkah dimusnahakan? Demi keuntungan, demi menyembunyikan kebusukan. Misteri sejarah tertinggal semakin jauh.

Sesosok dengan mandat di tangan. Melakukan gerakan. Berbekal surat sakti di tangan. Pemulihan!
Keamanan!
Pembersihan!

Lalu kekuasaan dalam genggam

Bertahun-tahun, hingga aku lupa menghitung. Anak-anakku pasti bingung jika diminta menghitung.

Setelah tumbang, kaca-kaca kotor kembali dibersihkan. Wajah-wajah garang merasa perlu membuat kelurusan. 

Gedung baru lengkap dengan orang baru, semangat baru
Untuk Indonesia maju
Begitu?

Waktu berganti, beberapa dasawarsa menghiasi
Kelindan kecil mulai membesar
Para penakut tampil menjadi pahlawan
Suara-suara arus dan pengikut membanjir
Hingga trotoar kaki lima
Hingga rumah-rumah kumuh di bantaran sungai
Di ujung-ujung desa
Merekalah perwakilan kita

Datang, duduk, diam, dan duit musnah seketika
Antipati mengisi kepala
Maka lahirlah 
Celoteh burung pingai, yang penting berceloteh
Yang penting tidak diam
Yang penting mendapat perhatian
Teriak nyaring jadi biasa
Saat tangan menjulur, lidah lebih panjang dari segalanya
Ia bangga
Minta gajih berlipat-lipat dari biasa

Bukalah cermin baru!
Apa yang terjadi?

Orang-orang yang telah mengalami
Akan tersenyum getir sambil berkata, "apa kata gua!" Lalu, "Sama saja. Malah cenderung liar dan tak ada guna!"

Surat-surat sakti lahir bak jamur di musim hujan
Terbang, melekat pada pintu-pintu perkantoran. Tertulis di jendela-jendela loket pelayanan

Akh! Bangunan itu tak ada di dindingnya di bagian belakang. Apalagi pintu
Mereka yang hapal lewat saja jalan belakang
Gampang!

Kepala-kepala sudah di kudeta
Telinga-telinga korban kudeta
Mata-mata mengawasi pelakunya
Bersembunyi di balik derita
Kita orang awan, harus taat peraturan
Jika tidak, bui menghadang di depan

Dari cermin ia belajar
Dari belajar ia mahir
Untuk liicik
Untuk mehinyik, menindih setindih-tindihnya
Untuk kaya
Sekaya-kayanya
Hingga ingin menyamai Korun dalam sejarah Musa
Oo, lihatlah cermin lagi
Berapa yang telah kita kudeta?
Berapa korban binasa?

Masa lalu itu untukku, 
Masa depan ambil saja jika memang itu yang kalian butuhkan
Kami pasti tak punya keberanian
Kami pasti tak kuasa membalik keadaan
Surat saktimu kapan saja akan berlaku
Kudetamu akan mengisi rongga-rongga udara
Kami yang ada saat ini
Terpaksa menghirup asapnya
Tersedak dan batuk 
Begitulah yang kalian inginkan
Hingga kami lupa bagaimana caranya membaca
Dalam pelukan susah cari makan
Pasti tak akan sempat menjadi pembaca
Apalagi pembuat, surat sakti untuk kudeta

Tb, 11 Maret 2021

(Mengenang peristiwa supersemar)

Sumber gambar: Historia.id

Komentar