Dalam Sebuah Kerumunan
Dalam kerumunan hari itu, kita disuguhi pemandangan yang sama. Corona dan tata cara menjauh satu dengan lainnya.
Satu meter, dua meter, ukuran apa? Siapa yang mengukurnya
Hingga implikasi hukum beda laku
Untukmu
Dan untuknya
Kerumunan jadi peluru siap menembak siapa saja
Dada tameng baja pasti tahan
Peluri melesat terbang
Pindah haluan
Menghantap awan
Hilang!
Yang buka baju
Terhunus meski hanya sekecil sembilu
Melukai lalu menjeruji
Kerumunan telah menulis kitabnya
Siapa yang dipenjara karenanya
Siapa yang bebas tanpa denda apa-apa
Siapa juga penulisnya
Di atas tampah, kerumunan jadi beras dan antah
Satu persatu dipilih pilah
Dibuang jad santapan ayam
Sisanya dimasak lalu dimakan
Yang sanggup menelan, dialah yang kenyang
Nasib malang
Keseleg hilang tenggorkan
Tergantung atau terkurung
Jeruji besi dalam gelap dan sunyi
Lihatlah!
Siapa yang telah berkerumun
Lihatlah!
Siapa yang terkurung
Dan lihatlah!
Siapa yang bebas hukum tak berujung?
Guru terkurung di ruang kantor
Siswa terkurung di kamar rumah
Buruh terkurung di barak-barak
Terpisah dari anak istri
Perpisah dari sanak keluarga
Demi sesuap nasi
Lalu yang berkerumun tanpa peduli
Siapa yang sanggup mencegah
Koronakah?
Atau aturan yang tak terbantah
Entah!
Kalau resepsi pernikahan dibatasi
Pembelajaran harus terkebiri
Loket-loket dipagar kaca tebal menanti sambil berdiri
Mengapa kerumunan masih ada di sana sini?
Aku
Kamu
Atau mereka yang telah mati
Sepertinya sudah tidak ada yang peduli
TB, 24 Pebruari 2021
Komentar
Posting Komentar